Belajar Rendah Hati

Posted: December 18, 2014 in Life Motivation
Tags: , ,

padiSemakin hari, Allah perkenankan saya untuk bisa bertemu dengan berbagai orang yang dikarunai kemampuan di atas rata-rata. Mereka yang dititipkan oleh Allah berbagai talenta yang saya meyakini pasti ada campur tangan manusia lain yang menemani perjalanan untuk mencapai berbagai puncak dunia mereka masing-masing. Dari mereke saya bisa belajar banyak hal, bahwa bagaimana kita bersikap adalah pilihan yang harus disadari. Pada akhirnya melatih diri untuk memilki kesadaran diri agar hidup bisa menjadi lebih ikhlas, selaras, dan tentram serta sehat seutuhnya bukanlah sesuatu yang mudah.

Ketika menginjak semester 8 saat masih di bangku kuliah S1, saya sempat mengikuti kompetisi mahasiswa berprestasi. Saat itu saya sedang kuliah praktek di sebuah Puskesmas di Kabupaten Malang. Tentu saja itu mengharuskan saya dan kawan-kawan untuk menyewa beberapa kamar yang memang rata-rata terbiasa diisi oleh mahasiswa pada tahun-tahun sebelumnya. Saat itu saya bercerita dengan kawan sekamar saya, saat ini saya sedang mengikuti kompetisi mahasiswa berprestasi. Saya bercerita dengan beliau bahwa saya belajar dengan mahasiswa-mahasiswa beprestasi sebelumnya melalui dunia maya. Ada yang menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang menjadi konflik di pikiran saya dengan jawaban yang memuaskan, ada pula yang tidak. Waktu itu saya hanya bilang, mungkin karena saya sefrekuensi sehingga antara pertanyaan dan tanggapan saya rasa pas. Intinya click dengan yang saya cari dan menjawab keingintahuan saya. Tapi berbeda dengan tanggapan kawan saya waktu itu, dia bilang kalau dia sombong dan menjawabnya dengan seadanya, itu mungkin memang haknya dia. Dia pantas untuk sombong dengan pencapaian-pencapaiannya karena sudah bekerja keras untuk mencapai itu semua. Sewaktu itu sempat saya berpikir dalam, iya benar, untuk mencapainya butuh suatu ekstra usaha yang mungkin tidak dilakukan dan dirasakan oleh manusia normal. Pasti butuh kegigihan, kemampuan untuk bertahan, dan tabah dalam kondisi sulit. Tapi disinilah sisi istimewanya. Teringat coretan di diary ayah “hidup ini adalah perpindahan dari pilihan satu dengan pilihan lain setiap harinya”.

Setiap manusia selalu diberi pillihan hidup….

Saat itu saya mulai menyeleksi figure seperti apa yang saya ingin hadirkan sebagai personal brand dalam diri saya. Apakah saya harus menjadi mereka yang bisa tinggi hati dengan pencapaian-pencapaian yang ia miliki, atau tetap rendah hati. Sikap yang tentu saja memiliki tingkat subjektifitas yang sangat tinggi. Menurut si A, dia tinggi hati, sedangkan menurut si B, tidak, itu adalah sebuah kewajaran. Betapa setiap manusia dilahirkan dengan genetik yang berbeda, pun dididik dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Membuat suatu nilai hidup menjadi sangat bervariasi dan itu sangat wajar. Hanya saja yang saya yakini, di dunia ini selalu ada yang dinamakan nilai universal, nilai lumrah. Ibaratnya, standar sikap yang bisa diterima oleh hampir semua manusia di muka bumi dengan range tertentu.

humble1Semakin hari saya semakin bertemu dengan berbagai macam manusia. Mulai dari menteri, pemimpin perusahaan internasional, penulis buku terkenal, pemimpin sebuah lembaga beasiswa terkemuka, peneliti dunia dengan jumlah paten yang wow, yang bisa saja hal-hal yang melekat dalam diri mereka membuat mereka tinggi hati. Kita bisa belajar rendah hati dan malu terhadap mereka kalau dengan apa yang dicapai hari ini membuat kita yang belum punya banyak kontribusi untuk negeri ini merasa tinggi hati dan hebat. Kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam isi hati manusia. Maka penilaian terhadap manusia lain sekali lagi, penuh dengan subjektifitas.

Setidaknya ada beberapa sikap yang saya intisari dari diri seseorang yang bisa kita pelajari. Sikap yang saya sebutkan diatas sebagai nilai universal yang diterima oleh semua manusia bumi dengan varasi genetik dan lingkungan mereka.

1. Pilihan Kata

Ini sangat penting apalagi di dunia maya yang kita tidak bisa bertatapan langsung. Betapa setiap manusia punya intonasi membaca masing-masing. Nada yang digunakan berbeda, akan memliki sarat makna yang berbeda. Maka sangat penting untuk memilih kata yang diucap melalui tulisan.

2. Sikap/Reaksi

Bagaimana kita memberikan komentar atau reaksi ketika berpapasan baik dalam dunia nyata ataupun maya. Apakah sikap atau reaksi yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan dengan lawan bicara. Setiap diri kita mungkin tidak akan mampu memuaskan keinginan setiap orang. Tapi setiap diri kita setidaknya mampu menjawab apa yang menjadi pertanyaan penanya. Gampangnya, ketika kita ditanya kita menjawab, kalau kita tidak tahu kita akan berusaha untuk menjawab dengan sopan, dan ketika kita tahu jawaban dari pertanyaan itu ada di internet kita bisa merekomendasikan kata kunci atau syukur-syukur alamat website yang bisa dituju. Dengan segala kecanggihan teknologi, search engine pasti bisa menemukan ribuan jawaban atas sebuah pertanyaan. Namun, hal tersebut ibarat memberikan hutan belantara yang harus ditelusuri dalam waktu yang terbatas. Saat Young On Top National Conference 2013, seorang direktur dari salah satu media terbesar di negeri ini sempat mengucapkan satu hal yang terpatri dalam diri saya, “mungkin semua orang akan bisa mencapainya, tapi siapa yang terlebih dahulu mencapainya, itulah yang membuat dirinya istimewa, speed is very important.

3. Ekspresi

Melatih ekspresi tidak semudah membalik telapak tangan. Begitu mudah bagi mereka yang dikarunia sumringah sehingga meski tidak senyum pun wajahnya tetap terlihat ramah. Ada beberapa kelompok manusia yang membutuhkan ekstra usaha sehingga dapat menampilkan suatu kenyamanan bagi orang yang berinteraksi dengannya. Setidaknya cobalah tersenyum. Senyum adalah sikap universal yang menunjukkan keramahan  dan kerendah hatian. Saat saya di Saint Louis, saya bisa merasakan betapa penduduk setempat adalah orang yang ramah dengan pendatang seperti saya dengan melihat frekuensi setiap orang yang senyum ramah meski hanya saat berpapasan selang beberap menit. Bahkan saya dan kawan satu flat saya sempat shock beberapa hari diawal menginjakkan kaki di kota ini karena penduduk setempat sering sekali menyapa dengan “How are you?”, meski tidak saling kenal.

Manusia adalah makhluk pembelajar. Apa yang sudah dicapai dan akan terus ditingkatkan adalah hasil dari pembelajaran yang panjang. Bahkan tanpa batas waktu. Semoga sedikit coretan random yang mungkin masih belum sesuai dengan standar sebuah tulisan bermutu ini bermanfaat untuk saya dan kawan-kawan semua. Mari kita semua terus semangat untuk belajar rendah hati…. =)

20275-puncak-keilmuan-adalah-rendah-hati

Saint Louis, 18 Desember 2014

Comments
  1. Windri Lesmana says:

    tulisan yang ‘sejuk’ mbak🙂
    Sumoga dimanapun mbak Ummu, sllu sehat, sukses dan bahagia. amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s