Mendekat ke Hajar Aswad #34

Posted: March 16, 2014 in Perjalanan Haji 2011
Tags: , ,

CIMG1808Hari ini saya, mama, dan tante Heny berencana untuk melaksanakan thowaf setelah sholat Ashar. Setiap melaksanakan thawaf sendiri alias tanpa ditemani rombongan dari KBIH, selalu meninggalkan jejak cerita menarik. Tante Heny bercerita kalau pada thawaf sebelumnya beliau bisa sholat di Hijr Ismail dengan di kelilingi orang-orang berkulit putih.  Hari ini kami berencana untuk thawaf bersama. Namun, ditengah-tengah perjalanan saya terpisah dari mama dan tante Heny.

Saya tepisah dengan mama dan tante Heny karena bertekad untuk mencium Hajar Aswad. Seperti biasa, penuh sesak. Namun tiba-tiba ada orang yang mengangkat sehingga aku terdorong ke bagian depan.  Kemudian sampai di depan Hajar Aswad pundakku didorong-dorong oleh orang-orang dari belakang sementara di depanku ada dua orang yang belum mau menyingkirkan kepalanya dari lubang yang menyimpan batu mulia tersebut. Satu kata saat itu, sesak. Saya berdoa dalam hati ” Ya Allah, saya ingin tetap hidup dan pulang ke tanah air.”  Di belakang saya tiba-tiba terdengar suara laki-laki berbicara dalam Bahasa Indonesia, “Hajjah mau keluar?”, saya sudah tidak sanggup lagi untuk mengucapkan sesuatu, saya mengangguk berkali-kali, semoga beliau mengerti dalam hati saya berucap. Akhirnya ada tangan yang menarik tangan saya keluar dari kerumunan di Hajar Aswad. Badan saya lemas. Saya berjalan di dekat Ka’bah untuk menuju Hijr Ismail, target berikutnya, saya ingin sekali sholat di sana.  Unfortunately, Hijr ismail was closed. Saya melihat jam, beberapa menit sebelum maghrib. Saya pun diusir karena untuk bagian terdekat dari Ka’bah adalah shaf ikhwan (laki-laki), sehingga saya harus segera menyingkir.

Mukjizat belum berakhir. Ditengah pusing dan lemas setelah berdesak-desakan di dekat Hajar Aswad saya di datangi oleh seorang laki-laki berusia sekitar 30-40 tahun, memakai jubah putih dan memakai kalung buku haji, saya berpikir ini adalah jama’ah Indonesia, meski saya tidak bisa membaca buku yang di kalungkan di dada beliau. Dia melihat saya sempoyongan kemudian bilang “permisi” dan menarik tangan saya melewati arus thowaf. Dia masih menghadap ke depan sambil bertanya “suaminya?” saya geleng-geleng, entah dia melihat saya geleng-geleng atau tidak karena saya tidak kuat berucap lagi. Setelah sampai di lampu hijau, beliau berpesan ” Hajjah, jangan dekat-dekat kesana lagi ya? sambil menunjuk Hajar Aswad”, saya mengangguk, kemudian dia pergi. Saya masih bingung dengan apa yang baru saya alami. Antara hidup dan mati. Setelah saya ingat-ingat saat di maktab laki-laki yang membantu saya tidak membawa tas jama’ah haji Indonesia. Hanya pria berbaju gamis putih dan berkalungkan buku haji.

Setelah itu saya menuju ke tempat untuk mengambil air zam-zam. Saya berwudhu kemudian sholat di dekat maqam  (bekas telapak kaki) nabi Ibrahim AS. Setelah itu saya mundur ke teras Masjidil Haram   karena tempat yang saya duduki untuk sholat tersebut masuk dalam barisan shaf pria. Setelah sholat Maghrib perasaan saya jauh lebih tenang. Tante Heny menelpon saya untuk janjian bertemu di lampu hijau.

Setelah bertemu dengan mama dan tante Heny, saya bercerita apa yang baru saja saya alami. Mama tentu saja sangat terkejut dan sedikit marah dengan kenekadan saya. Akhirnya kami sholat Isya di basement Masjidil Haram. Sepi, teduh, dan sejuk. Pengalaman hari ini sungguh seru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s