Sedekah Jangan Ditunda-tunda #6

Posted: February 5, 2012 in Uncategorized

Hari ini satu pelajaran Allah tampakkan lagi padaku. Ceritanya dimulai dari kebiasaan harian kami, yaitu berangkat Qiyamul Lail di Masjid Nabawi setiap jam 3 pagi. Biasanya setelah itu kami lanjutkan sholat shubuh dan ke Rawdah, memanjatkan doa di tempat yang mustajab tersebut😉 . Sambil menunggu antrian Rawdah yang panjang sekali biasanya kami sholat Dhuha di tempat antrian tersebut. Tempat antrian tersebut maksudnya kita duduk di masjid kemudian sambil menunggu dipanggil berdasarkan ras (melayu, afrika, eropa, dll) seperti cerita sebelumnya.

Ternyata setelah sholat shubuh saya batal dan harus wudhu di tempat wudhu masjid Nabawi yang berada di lantai bawah tanah. Biasanya kita wudhu sambil duduk (ada kursinya). Setelah itu dengan santainya saya pergi kembali ke masjid dan berangkat ke Rawdah . Di Rawdah setelah sholat Dhuha, saya menyadari kalau jam tangan saya tertinggal di tempat wudhu. Saat itu saya berpikir “ YaAllah, kemarin gelang tasbih yang biasa melingkar di lengan kanan saya yang tertinggal, hari ini jam tangan yang biasa melingkar di tangan kiri saya, apa ya hikmahnya..”. Saat itu saya sudah pasrah, secara tertinggalnya jam tersebut cukup lama, beberapa jam setelahnya baru saya menyadari. Akhirnya konsentrasi saya alihkan lembali untuk berdoa di Rawdah. Perkara jam tangan, saya sudah pasrah dengan takdir tersebut, segalanya adalah dari Nya dan akan kembali kepada Nya.

Setelah keluar dari Rawdah yang membutuhkan 2,5 jam, saya izin melepaskan diri dari rombongan untuk kembali ke tempat wudhu dimana saya meninggalakn jam tersebut. Ternyata jam tersebut TIDAK ADA. Kemudian saya bertanya pada petugas kebersihan yang ada yang disana ( dengan bahasa Inggris karena saya tidak bisa bahasa Arab -_-). Ternyata beliau tidak melihatnya. Berikutnya saya bertanya pada petugas di depan toilet, ternyata petugas tersebut pun tidak mengetahui ada orang yang menyerahkan barang temuan berupa jam kepadanya. Rasanya saat itu saya sudah speechless karena itu berarti kali ini memang harus me-shodaqohkan jam tersebut. Saat keluar toilet, di depan eskalator terdapat 2 petugas. Iseng-iseng tanya deh. Ternyata beliau bilang bahwasaya harus ke lantai atas di sebuah ruangan kaca. Akhirnya dengan eskalator saya menuju ruang kaca yang ada di lantai atas ruang wudhu.

Setelah sampai ke tempat tersebut, saya bertemu dengan petugas yang ada di ruangan tersebut dan dia menjawab dengan bahasa Inggris yang saya kurang mengerti. Awalnya kami menuju tempat dimana jamaah yang menemukan barang temuan melaporkan dan barang tersebut sengaja ditaruh di sebuah lemari kaca agar jamaah yang memiliki barang yang bersangkutan dapat melihat dan mengambil barang miliknya. Di tempat tersebut jam tangan saya TIDAK ADA. Saya semakin yakin waktu itu kalau jam tangan saya ini memang waktunya pindah tangan.  Namun setelah kembali ke kantor yang dikelilingi kaca tersebut, salah seorang petugas yang lain bertanya ke saya, saya katakan “I lost my watch”. Dia kemudian menunjuk bajunya (yang berwarna hitam) dan mukena yang saya pakai (berwarna putih) à selama di Madinah selain memakai jilbab, saya dan jamaah Indonesia kebanyakan memakai mukena sehari-hari tiap keluar hotel.  Kemudian saya tunjuk baju jubah petugas tersebut. Kemudian dia bertanya lagi “Metal or leather?”, saya jawan “leather”. Petugas  tersebut kemudian berkata “ OK, You could get it at gate 13”.  Rasanya seperti menemukan titik terang (walaupun saya masih belum yakin, mungkin saja itu jam orang lain yang warnanya sama-sama hitam dan dari kulit juga).

Akhirnya setelah sampai di Gate 13 saya bertanya pada petugas di depan Gate 13 dan diarahkan menuju Library di Masjid Nabawi yang tidak jauh dari pintu masuk. Di sana saya bertemu dengan petugas lagi. Dengan pertanyaan yang sama, menjelaskan warna  dan bahan pula, namun petugas tersebut berkata kalau jam saya tersebut kemungkinan ada di Gate 29. Saya jadi bingung.  Muka saya memang ekspresif. Tanpa perlu menjelaskan pun petugas tersebut mengerti kalau saya bingung. Salah satu dari petugas tersebut berinisiatif menelpon library yang ada di Gate 29 (yah gitu dunk kan jadi hemat tenaga, hehe, pikirku).  Ternyata jam saya ada di sana (kok bisa jam saya terlempar kesana kemari segitu jauhnya -_-“ ). Akhirnya, setelah agak lama, salah satu petugas tersebut pergi ke Gate 29  (jazakillah khoir ukhti ^_^).

Setelah menunggu detik-detik yang menegangkan, akhirnya petugas tersebut kembali dan ternyata memang benar yang dibawa adalah jam saya (untunglah… tewas saya kesana kemari dan menunggu ^_^).  Proses berikutnya adalah saya harus menuliskan berita acara. Tulisannya arab pula, tapi akhirnya dituliskan oleh petugasnya sambil saya berkata dalam bahasa Inggris sekaligus di translate kan oleh petugas tersebut ke bahasa arab.

Setelah keluar dari masjid, saya masih bertanya-tanya apa hikmah Allah dari semua ini…. Akhirnya saya memutuskan mengambil air wudhu, sholat Dhuha, dan sholat Taubat. Barangkali ada hal yang menyinggung Allah yang tidak saya sengaja dan tidak saya sadari entah sebelum berangkat atau di tanah air atau saat di tanah Madinah.

Setelah saya sholat dan memanjatkan doa, saya baru teringat kalau saya pernah membatin saat melewati petugas petugas penjual Al-Qur’an bahwa saya akan wakaf Al-Quran untuk di berikan ke masjid Nabawi yang insya Allah akan dibaca oleh jamaah Masjid Nabawi dari seluruh dunia hingga hari kiamat. Astaghfirulloh… mungkin Allah sedang berusaha menyentil dan mengingatkan saya tentang janji saya tersebut (Hey Ummu, ini udah hari ke 6 lho kamu di Madinah..Mana janjimu buat wakaf Qur’an à bahasa aku nih..hehe).

Sepulang dari masjid Nabawi saya langsung membeli dua buah Al-Qur’an dan balik ke hotel karena saya mungkin sudah membuat mama saya khawatir karena ngga balik-balik ke hotel. Setelah sholat Dhuhur  saya menuju ke Library untuk memperoleh stempel wakaf di  Al-Qur’an sekaligus menyerahkannya ke petugas untuk di taruh di rak-rak masjid Nabawi (tenpa perlu pake nulis nama atau apapun di Al-Qur’an yang kita wakaf kan).

Kawan, jangan pernah meremehkan nadzar atau janji apalagi janji dengan Allah. Kalau kebetulan saya di Masjid Nabawi dimana segalanya dibayar oleh Allah secara tunai, maka ditagihnya pun secara tunai. Maka berhati-hati lah ketika berjanji dan bersegeralah dalam melakukan amal kebaikan, karena manusia tempatnya khilaf dan lupa ^_^.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya… ^_^  

Comments
    • ummuditya says:

      iya..hehe..sampai sekarang pun masih kerasa gimana capeknya bolak balik jalan kesana kemari buat dapetin jam tangan itu..setelah itu kalao mau membatin kudu hati2 di tanah suci..😉

  1. sumanista says:

    hihihi… nggak kebayang gimana mesti dibolak-balik naik lantai sana-sini…

    tp ngena juga… supaya, setidaknya, aku tidak menunda-nunda untuk berbuat baik… ^_^

    nice post

  2. Allahummashalli ‘ala sayyidina Muhammad…
    nice story,,, salam kenal ^_^

  3. octarezka says:

    uhm…ini cerita berlanjut-lanjut ya?bingung kirain td mo cerita soal sedekah
    tapi syukurlah jam tanganny ketemu
    =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s