Pemulih Jiwa (MTGW) #15

Posted: June 9, 2011 in 30 Hari Menulis Blog
Tags: , , ,

Banyak dari kita yang sewaktu kecil memiliki luka jiwa saat kecil, seperti dikasari oleh orang yang lebih dewasa, dinomor akhirkan dibandingkan dengan orang lain dibanding-bandingkan dengan orang lain, dikhianati janjinya, kekerasan fisik dan lain-lain sehingga saat dewasa mudah mengeluh, tidak menerima kekurangan, mudah curiga, menggagalkan rencana sebelum dimulainya rencana dan lain-lain. Banyak dari kita yang membutuhkan pemulihan jiwa dan menjadi pemulih bagi jiwa-jiwa yang terluka.

Setiap jiwa pada hakikatnya bersih dan diilhamkan kebaikan-kebaikan. Perhatikan penjahat. Para penjahat adalah yang paling tegas menuntut kebaikan. Dia paling jahat saat keluarganya di jahati. Berarti  tidak ada orang yang kosong dari kebaikan. Kebaikan itu lebih banyak isinya, potensinya daripada keburukan. Hanya saja ada orang yang memilih enaknya keburukan daripada damai dan baagianya kebaikan yang membutuhkan pemeliharaan. Jadi seyogyanya setiap jiwa itu baik.

“Sesungguhnya setiap jiwa sejatinya adalah jiwa yang baik”.

Image_of_single_candle_lighting_t_7Setiap orang dari waktu ke waktu diingatkan untuk menjadi pribadi yang kuat. Setiap hari kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kita sesali sepanjang hidup, namun itu artinya kita tumbuh. Kerusakan jiwa sebagian besar disebabkan oleh perlakuan tanpa kasih sayang. Anak yang seharusnya disayangi kemudian direndahkan, istri yang seharusnya disayangi kemudian direndahkan, sedangkan suami yang seharusnya  dimuliakan dibanding-bandingkan dengan suami yang lain.  Orang yang suka diramal sebenarnya jiwanya terluka. Orang-orang yang jiwanya sehat tidak perlu meramalkan dirinya ke orang lain karena dia mampu meramal dirinya sendiri melalui perbuatan-perbuatan yang paling baik bagi dirinya. Orang yang perilakunya baik pasti hidupnya baik. Kemudian, yang kedua rusaknya jiwa itu Karena rusaknya iman. Mudah orang berkata bahwa Tuhan ada, namun sedikit dari kita yang mencoba untuk mengikuti aturan-aturannya. Yang ketiga adalah ilmu atau pendidikan . Untuk mempertahankan jiwa yang baik membutuhkan ilmu. Orang yang tidak berilmu tapi beriman akan diakali oleh orang yang tidak beriman namun berilmu. Keempat, orang yang tidak memiliki kekuatan ekonomi. Dengan tidak memiliki kekuatan ekonomi maka mudah untuk terluka jiwanya dengan mudah untuk dibawa ke jurang keburukan .

Tanda-tanda dari jiwa yang baik:

  1. Mencintai kedamaian
  2. Berupaya membangun kehidupan yang bergembira
  3. Mengagumi keindahan
  4. Menemukan kebahagiaan dalam mencintai yang dicintai
  5. Memiliki dorongan asli dalam menegakkan keadilan bagi kebaikan sesama

Menyesal itu tidak apa-apa asal tidak merusak percaya diri. Menyesal itu wajar. Itu adalah upaya Tuhan untuk memuliakan diri kita sebagai bagian dari peringatan Tuhan.

Mencegah teradinya keburukan berarti membela orang untuk mencapai kebaikan dan menghindari luka di jiwa-jiwa orang baik.

Jiwa itu terdiri dari ruangan-ruangan yang kecil. Perbesaran dari ruangan-ruangan kecil di jiwa kita itu akan menjadi impian dan harapan. Orang-orang yang tidak menemukan Tuhan pun berusaha untuk mencari dengan melakukukan ritual-ritual. Ruangan dari hati itu akan menjadi gambaran atau wajah dari jiwa. Jadi kalau wajah nya baik berarti hatinya baik.

Kalau mau ubah dunia besarkan kebaikan sehingga tidak ada keburukan dalam diri.

“Setiap jiwa memiliki taman keindahan dan kita bisa masuk dalam keindahan, itu melalui hati, karena hati adalah wajah dari jiwa.”

Kekuatan itu terdiri dari 2 paruh, dari diri sendiri dan dari luar. Dari luar itu bisa dari Tuhan melalui teman-teman. Bertemulah dengan Tuhan dalam kesendirian Anda. Keheningan itu memungkinkan kita berbicara dengan Tuhan, setelah kita berbicara dengan Tuhan kita akan menjadi pribadi yang baru.  Sering-seringlah Anda berbicara dengan Tuhan karena Anda tidak mungkin menjadi pribadi yang tetap sama setelah keluar dari pembicaraan dengan Tuhan.

Kebaikan akan mencari jalan kalau kita mencari kebaikan, karena sponsor kebaikan adalah Tuhan. Tidak ada orang yang bisa hebat sendirinya. Dia harus dekat dengan orang-orang yang menghebatkan, yang membuat baik, yang menasihati kebaikan. Dekat-dekatlah dengan arus  dimana  kebaikannya kuat. Supaya kita tidak sengaja tahu-tahu kaki kita diangkat untuk menjadi pribadi yang baik juga.

Beranilah untuk gagal besar. Berencanalah gagal besar. Berencanalah gagal dalam recana besar. Dengannya dia tidak akan kecil hati dengan kegagalan kecil. Ikhlaskanlah diri Anda saat  digagalkan oleh Tuhan. Laporkan diri Anda sebagai pelayan Tuhan maka Tuhan tidak akan mungkin menggagalkan pelayannya yang setia.

Tidak ada dalam kehidupan ini yang lebih indah dari mengikhlaskan diri menjadi diri yang lebih baik. Setiap orang itu jujur, yang membedakan adalah harganya. Tugas dari langit tidak akan turun pada orang yang nilainya rendah.  Tugas dari langit akan turun pada orang yang nilainya tinggi, yang tidak dapat dibeli oleh uang, yang tidak mengejar-ngejar jabatan kemudian setelah menerima jabatan itu mengambil uang yang bukan haknya. Itulah jiwa-jiwa yang kuat. Kita sebenarnya ditunggu untuk menjadi jiwa yang ikhlas. Yang perilakunya menjadi teladan bagi kesetiaan yang benar.

Orang malas itu stres oleh sebab itu ia butuh tidur. Orang malas itu “ngantuk-an”, karena itu ciri-ciri orang malas salah satunya senang tidur. Tanggung jawab memperbaiki kehidupan ada pada diri kita sendiri, maka take charge.

Usia, tidak akan menuakan kita. Jumlah hari dalam hidup ini hanya menambah keriput di wajah kita tetapi tidak dengan jiwa. Usia tidak menuakan jiwa. Yang menuakan jiwa adalah hampanya harapan dari hati seseorang. Orang yang berhenti berharap langsung tua. Berhentinya berharap karena berhenti diperlakukan kasih sayang. Anak yang dibentak-bentak, dibanding-bandingkan,membuat anak putus harapan. Suami atau istri yang tidak dipuji akan memutuskan harapan. Pujian itu mendahulukan kebaikan dan mempercayai tercapainya kebaikan, sehingga jiwa-jiwa disekitar kita berharap. Jadilah orang tua yang membesarkan hati anak. Menjadi sahabat yang membesarkan hati sahabatnya, jangan fokus pada jeleknya, fokus pada kebaikan, sehingga dalam jiwanya dipenuhi oleh kebaikan-kebaikan sehingga tidak ada ruang untuk keburukan dan kita sebagai sahabat menjadi sahabat yang utuh dalam kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s