Jangan sampai dalam kehidupan kita perilaku kita tidak membaikkan rejeki kemudian menyalahkan nasib.
Tali rejeki berarti tali yang menghubungkan kita dengan tali pemIlik rejeki, yaitu Tuhan. Hal pertama yang harus dilakukan agar memperoleh rejeki adalah dengan meminta perhatian Tuhan. Tuhan itu mengetahui meskipun kita tidak mengetahui keberadaan Dia secara nyata Dia tetap memperhatikan kita. Harta pertama adalah iman, kemudian kesehatan, hati yang bening, hati yang jernih, dan perilaku yang indah atau baik. Kalau kita meminta sesuatu dan belum diberi maka berarti kita belum pantas untuk diberi. Ada yang belum pantas dari diri kita sehingga sesuatu itu tidak diberikan kepada kita. Maka pantaskanlah diri kita terlebih dahulu jika kita menginginkan atau meminta sesuatu kepada Tuhan.
Jadilah diri yang lebih pantas untuk dimuliakan.
Tali itu dipilin dari serat. Tali rejeki itu ada 3 komponen, yang pertama ada permintaan, yang kedua adalah kepantasan untuk menerima, yang ketiga, menggunakan yang sudah ada sebagai pengungkit.
Meminta itu kunci kebahagiaan yang sering ditelantarkan. Banyak orang tidak mampu meminta. Kemampuan meminta kepada manusia mengindikasikan kemampuan meminta kepada Tuhan.Selling is the skill of asking.
Banyak orang yang tidak berterima kasih saat diberi.
Yang ketiga tidak bersyukuri yang sudah ada. Orang yang mensyukuri yang sudah ada lebih mudah diberi. Bersyukur membuat sejelek-jeleknya yang ada menjadi model terbaik. Bersyukurlah sehingga yang sejelek-jeleknya pun menjadi yang terbaik.
Orang yang menyuap untuk bekerja biasanya berusaha mengembalikan uangnya melalui pekerjaannya. Orang-orang yang menyuap tidak boleh dari korupsi karena dia bagian dari orang-orang yang korupsi. Jangan memaksa orang lain melakukan sesuatu yang tidak amanat dengan menyuapnya.
Orang-orang yang menempel pada selain Tuhan, maka Tuhan akan membuat orang tersebut menempel pada apa yang ditempeli kemudian dibuat kecewa. Lebih baik kecewa kepada Tuhan daripada kecewa kepada selain Tuhan.
Doa saja tidak layak, tindakan saja tidak layak. Doa plus tindakan itulah yang layak. Berdoa banyak itu tidak masalah, kemudian berbuatlah banyak, itu yang diharapkan. Iman itu sangat logis, tetapi Anda tidak akan menemukan kelogisan iman kecuali Anda ikhlas menerima Tuhan.
Religius dan spiritual. Spirit itu semangat, religi itu tuntunannya. Untuk tahu apakah yang diimaninya itu baik maka cek apakah imannya itu membebaskan dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak orang yang mengira dia beriman namun tidak membebaskan kepribadiannya menjadi yang lebih baik. Religi itu keteraturan yang ada di agama. Orang yang tidak teratur hidupnya tidak sinkron dengan alam.

Menikah muda itu baik asal tumbuh bersama tidak hanya suaminya saja namun juga istrinya. Anak itu membawa rejeki masing-masing, namun kita juga harus memikirkan jiwanya, mentalnya, kebeningan hatinya, itu adalah kekayaan pula yang harus dipupuk.
Orang yang indah itu membaikkan sesama dan lingkungannya.
Kalau kita punya koneksi yang baik dengan Tuhan kita tidak perlu koneksi yang tidak halal untuk memperoleh rejeki. Rejeki yang seperti itu tidak benar-bena berkah. Maka koneksi terbaik di dalam hidup ini adalah Tuhan. Lebih baik kita lebih kaya 10% dari sekarang namun dari hasil usaha yang jujur, daripada 100% namun hidup tidak tenang, hati terbakar, dll
Kadang kita tidak sadar kita bertuhan jika tidak melalui rasa takut. Tuhan itu menyukai doa kita, dan ketika kita hanya berdoa ketika kita bersedih maka Tuhan memberi kesedihan itu agar kita kembali pada Tuhan. Maka mulai sekarang kita datang kepada Tuhan dengan pribadi yang pantas, menarik bagi Tuhan, dan gunakan tali rejeki yang terbaik pada kondisi yang terbaik. Sehingga kita tidak dipanggil Tuhan dalam keadaan yang takut atau sedih saja.
Tugas kita hanyalah memantaskan diri. Jadilah pribadi yang gembira. Keberhasilan itu terletak pada kualitas perjalanan bukan tujuan. Maka jadilah pribadi-pribadi yang bahagia, yang bening hati dan pikirannya sehingga rejeki itu datang dalam kondisi yang pantas bagi kita yang mulia baik di dunia maupun akhirat.






